TEKA-TEKI OCHA
Kabar itu kudengar dua minggu yang lalu, pas awal-awal aku masuk ke pengajian ini..Anak-anak yang memang sedikit cerewet dan suka bergosip riatak sengaja menceritakan perihal Ocha dengan polosnya. Waktu itu baru satu anak yang bercerita tentang Ocha.Pertama aku tak perduli.Namanya juga anak-anak, mungkin hanya bercanda.
“Ka, tahu ga?Ocha itu ternyata seorang Cewek lho!” kata Ilham, salah satu anak didiku di pengajian ini.
“Hah?!”Aku sedikit mengernyitkan kening.Sedikit terdengar lucu.Aku melirik Ocha yang ada di seberang.Ocha masuk ke kelompok yang sudah bisa Al-Qur’an dan berbeda guru, bukan olehku.
’Terlihat seperti seorang anak laki-laki.Tak ada yang aneh, Nih anak suka ngegosip ya!’pikirku.
“Ah masa.Kaka gak percaya.Udah hayoh ngaji lagi, jangan suka bicarain orang, gak baik ya.”Ucapku pada Ilham dan menyuruhnya untuk tidak bergosip.Bibrnya manyun, lalu tangannya mengambil Iqra.Mengaji.
Keesokan harinya, giliran anak-anak perempuan kelompok al-Qur’an yang datang menhampiriku, Mayang dan Amel.Aku dan temanku, Deudeu, guru kelompok al-Qur’an memang selalu datang ke pengajian ini sebelum magrib tiba.Dan anak-anak juga kadang datang lebih awal sebelum magrib juga, termasuk Mayang dan Amel yang sekarang ada di depanku.Deudeu ada di dalam bersiap-siap untuk sholat magrib.Dan aku masih diluar bersama anak-anak ini.Sekali lagi aku mendengar celotehan mereka.
“Ka, tahu ga, Ocha itu ternyata seorang cewek”.celetuk Amel.Serius.
“Iya, Ka. Ocha itu cewek, bukan cowok.Kelihatannya saja seperti itu.Itu tuh gara-gara orangtuanya lho Ka.Ibunya itu punya anak tiga, perempuan semua.Nah pas hamil lagi, inginnya anak laki-laki, eh yang keluar ternyata perempuan lagi.Yah daripada gak, Ocha lah yang dijadiin laki-laki.”Tambah Mayang. Lebih serius.Disampingnya Amel mengangguk.Mereka memegang tanganku dan agak mengguncang tubuhku.
Sontak Aku tiba-tiba kaget.Entah mengapa mendengar hal ini untuk kedua kalinya.Perasaanku berubah, antara kasihan, takut, dan miris sekali.Ya Allah, sungguh parah kalau memang itu benar.Kebetulan Ocha belum datang.Tapi ucapan beberapa anak disini mengenai Ocha membuat otaku terus mengingat hal itu.Terbayang akan tingkah laku Ocha yang semuanya kelaki-lakian. Ocha yang umurnya 15 tahun itu, sungguh terlihat seperti anak laki-laki.Pakaiannya, wajahnya, suaranya, bahkan untuk sholat pun Dia memakai sarung dan peci laki-laki, pokoknya semua penampilan seperti laki-laki biasa.Ah, setelah mendengar itu, aku tidak banyak bicara. Biarlah pikiranku yang berkutat memikirkan Ocha.Obrolan itu pun berhenti ketika adazan Magrib berkumandang.Mayang dan Amel langsung berlarian ke tempat wudhu.Sementara Aku berjalan lunglai ke dalam masjid menghampiri Deudeu yang sudah siap untuk berjama’ah.Dari arah belakang terlihat Ocha memasuki masjid.Aku memandanngya, sungguh tak percaya akan sosok sebenarnya dari Ocha.
***
Minggu keempat, tak terasa Aku dan Deudeu semakin dekat dengan anak-anak pengajian ini.Banyak sekali hal-hal diluar perkiraan mengenai anak-anak ini.Sangat bervariasi, salah satunya Ocha.Kemarin, tak lama setelah aku mendengar gossipOcha dari anak-anak disini, aku langsung bercerita ke Deudeu, guru ngajinya, perihal Ocha yang sebenarnya adalah seorang perempuan.
“Apa?!”Teriak Deudeu kaget setelah Aku membisikkan perihaL Ocha yang ternyata seorang anak Perempuan.
Deudeu menatapku tak percaya.Aku mengangguk meyakinkan.
“Astagfirullah!Gimana Mi. kalau memang itu benar. Kasihan Ocha.”Kata Deudeu.
Aku sedikit menggeleng.“Entahlah, aku juga gak tahu.Kalau kita menyinggung tentang ini, takutnya Ocha marah dan gak ngaji lagi.”
“Ya memang.Udah syukur si Ocha mau ngaji dan sholat walaupun gak pada tempatnya.Mudah-mudahan Allah cepat memberinya hidayah, soalnya kasihan dia., gimana statusnya ntar.Terus di sekolahnya gimana.”
Aku menghela nafas.Deudeu lagsung diam. Masing-masing kami berbeda memikirkan Ocha.
“Yah, katanya juga Ocha sekarang gak nerusin sekolah gara-gara identitasnya itu lho!”Kataku lagi. Deudeu menatapku tajam.
“Wah, itu lebih dari gawat.Gimana dong, setidaknya kita sebagai guru ngajinya harus bisa membuatnya berubah.”Jelas Deudeu berapi-api.Aku mengangguk pelan.Kembali kami diam. Adzan magrib berkumandang merdu, membuyarkan lamunan kami.Anak-anak mulai berdatangan satu persatu.Termasuk Ocha. Kami berdua spontan memandang kearah Ocha.Ocha pun balas memandang kami heran.Tak lama, kami berlalu.
***
‘Ada SMS masuk…ada SMS masuk’
Aku terperanjat dari tempat tidurku mendengar suara SMS dari Hpku. Aku buru-buru menyambarnya dan membuka SMS itu.Tertera di layar utama si pengirim SMS, ternyata Ocha.
“Tumben”.Kataku sambil mengetik tombol ‘buka’.Aku membacanya.
‘Ka, aku mau ngobrol sama kakak, datang siang ini ke masjid ya Ka, kakak sendiri aja jangan sama Ka Deudeu ya, Ocha’
“Hah?! Ada apa ya? Aneh banget, apa dia mau ngobrolin tentang dirinya atau …”aku berhenti sejenak.Memikirkan apa yang akan Ocha katakan. Tapi aku tak mau langsung menebak walaupun sangat penasaran tapi lebih baik aku mebalas SMS nya dulu.
‘Iya, Insya Allah Ka akan kesana.Tunggu ya’.
Tak lama Hpku bordering lagi.Ada SMS masuk, pesan balasan dari Ocha.
‘Ok, Ka. Makasih sebelumnya.Sampai nanti ya Ka.’
Setelah itu, aku pun bergegas untuk pergi menemui Ocha karena jam yang ditentukan sudah hampir tepat.Untungnya, hari ini hari minggu.Tak ada kuliah dan tugas.Aku berangkat setelah melaksanakn sholat dzuhur.
Jam 1 teng. Aku sampai di teras masjid.Ternyata Ocha sudah menunggu disana.Masih sebagai seorang anak laki-laki.Tak ada salahnya kan berharap ketika dia bertemu denganku sekarang, dia sudah berubah jadi anak perempuan, kalau memang dia perempuan. Mungkin itu hanya mimpi.Kenyataannya tidak.Ocha memakai celana pendek dan kaos oblong khas anak laki-laki.Ya sudahlah, kepribadian laki-lakinya sudah terlalu mengakar dalam dirinya.Aku datang menghampiri.
“Assalamu’alaikum.”Sapaku.
“Wa’alaikum salam.”Jawab Ocha.Wajahnya biasa saja.Tak menunjukan keceriaan seperti biasanya.Mungkin dia juga sudah tahu banyak orang yang membicarakannya akhir-akhir ini.
Aku duduk di sampng Ocha.Mulai menata pembicaraan untuk saat ini.Mudah-mudahan inilah waktu yang tepat untuku membicarakan perihal dirinya.
“Ka, lagsung aja ya.Aku tak mau lama-lama.”Kata Ocha mengawali pembicaraan tak malu-malu.
“Ya, memangnya ada apa. Kayaknya yang mau dibicarain sekarang hal serius ya?”Tanyaku.Masih dengan perasaan biasa tapi agak deg-degan.Mencoba menebak apa yang akan dia katakana. Pasti mengenai dirinya.
“Gini..Kakak..Kakak..udah tahu kan gossip tentangku?”Tanya Ocha melirik ke arahku.Aku mengangguk pelan.
“Hmm..i..i..ya. kakak..udah tahu.”Balasku sedikit terbata-bata.Takut dia marah padaku.
“Terus pendapat Kakak gimana?”tanyanya lagi. Dia memandang ke jalan raya yang banyak lalu lalang mobil dan angkutan umum.Aku pun juga.Siang hari ini sangat panas.Ocha menghela nafas dan mulai bercerita lagi.
“Ka, apa yang dikatakan oleh orang-orang disini tuh benar.Aku, aku..aku memang SEORANG PEREMPUAN!!.”Lanjut Ocha. Wajahnya ditutupi oleh kedua tangan.
Mendengar itu, Aku hanya diam. Tak ada rasa kaget, seperti sudah siap menerima kenyataan itu.Pastinya bukan perasaan itu yang hadir saat ini.Tapi perasaan sedih.Rasanya ingin menangis namun kutahan sampai Ocha mengakhiri ceritanya.
“Ka, entahlah, nantinya aku mau seperti apa. Tak terbayangkan olehku.Aku ini seorang perempuan tapi jiwaku sudah menjadi laki-laki Ka.”Tambahnya lagi.
“Iya, Kakak tahu.Apalagi, sekarang kamu udah masuk remaja.Kamu sudah tumbuh payudara kan?dan…”Ucapanku terpotong oleh Ocha.
“..dan sekarang juga aku mulai Haid. Itu kan apa yang mau Kakak katakan?!”
Aku mengangguk pelan dan melihat kearah Ocha.Butiran bening mulai terlihat di matanya.
“Terus, ketika aku sholat aku pake sarung dan peci, harusnya aku pake mukena kayak Kakak dan Kak Deudeu. Terus, aku juga banyak maennya sama anak cowok. Aku gak tahu Ka.Kadang Aku suka iri ngelihat Kakak dan Kak Deudeu menjadi seorang perempuan.Rasanya ada bisikan hati satu lagi agar aku bisa berubah jadi anak perempuan normal.Tapi itu tak bertahan lama jiwaku yang laki-laki sudah terlalu besar Kak.”
“Kakak lihat..dadaku?” tanya Ocha. Spontan aku melirik kea rah dadanya dan memang payudaranya sudah tumbuh.Ya, Allah gimana, semakin melihat kenyataan itu semakin aku sakit.Di tambah lagi memang tak terlihat jakun di lehernya yang menunjukkan seseorang itu laki-laki.
“Lalu?” kataku.Sekali lagi berusaha menahan rasa sedih ini agar tak keluar buru-buru.
“Lalu…aku ingin..ingin..sekolah lagi.”
‘Deg’.Jantungku tiba-tiba berdetak kencang.Makin tak karuan rasanya mendengar sebuah kejujuran dari mulut Ocha.Ocha menatapku.
“Kukatakan sekali lagi, aku ingin sekolah.Aku belum mau berhenti.Hampir semua sekolah menolakku.Apa itu semua karena identitsaku, Ka?” teriak Ocha menatap dingin ke arahku.Aku tak tahu harus bagaimana menghadapi anak didiku yang satu ini.Aku tak tega.
“Ka..apa Aku salah sudah seperti ini?” tambahnya lagi. Tiba-tiba Butiran bening keluar dari matanya.Menangis.
Aku memeluknya dan membelainya penuh iba.Entah siapa sebenarnya yang harus disalahkan.Apakah Dia sendiri, orangtua, atau sahabat-sahabatnya atau bahkan juga lingkungannya yang menjadikan kepribadian Dia seperti ini.
“Ocha, sabar..Kamu pasti bisa sekolah lagi.Jangan hiraukan dulu identitasmu.InsyAllah, bakalan ada jalan koq Cha.Asal Ocha emang mau berubah, walaupun itu hanya sedikit.Gimana?”.Kataku sedikit menenangkan.
Ocha masih menelungkupkan badannya.Menangis tersedu-sedu.Hatinya masih kalut.Dia tak membalas apa yang aku ucapkan. Siang hari di teras mesjid ini semuanya menjadi mendung.
***
Musim sudah berganti.Sudah lama aku tak mengunjugi anak-anak pengajian.Settelah aku disibukkan dengan KKNku.Aku jadi tak bisa bertemu dengan mereka, begitu pun dengan Deudeu.Hanya dari pesan singkatlah yang selama ini aku mendapat kabar terbaru dari mereka.Yang aku inginkan saat ini, adalah melihat Ocha tumbuh sebagai anak perempuan normal.Mengingat, sebelum aku berangkat KKN, Ocha bercerita bahwa dia akan masuk pesantren. Biar dia bisa menemukan jati dirinya dan merubah dia menjadi seorang anak perempuan yang cantik.
“Ka, aku akan masuk pesantren, doain aku ya Ka. Pokoknya aku harus bisa berubah.Makasih buat Ka Mia dan Deudeu yang udah ngasih tahu banyak hal. Sekarang aku harus pamit.”
Itulah kata-kata terakhir Ocha yang aku ingat. Ah, rasanya rindu sekali. Aku bergegas menuju masjid yang ada di Ujung Berung ini.Tadinya aku mau ajak Deudeu juga, tapi dia menolak karena ada urusan lain.
Aku mempercepat langkahku.Sampai akhirnya aku tiba di teras masjid.Sepi.Tak ada siapa-siapa.Adzan ashar mengiringi kerinduanku untuk bertemu dengan anak-anak disini.Tapi belum ada yang datang satu pun.
“Mereka pasti sudah pada dewasa.”Gumamku pelan.aku pun duduk di teras masjid menghadap ke jalan raya. Mengistirahatkan tubuhku sejenak sambil mendengar adzan ashar.Aku larut dalam lamunanku.Tentu saja mengenai Ocha.
“Darrrr.”Tiba-tiba seseorang mengagetkanku dari belakang.Terdengar seperti seorang laki-laki dewasa.Aku lengsung berbalik ke belakang, penasaran.
“Astagfirullah!”Aku kaget dan langsung berbalik ke belakang.Keningku mengernyit.Tak percaya dengan apa yang aku lihat. Dihadapanku kini berdiri seorang laki-laki dewasa, asli dan bukan lagi seorang anak perempuan yang menyamar sebagai seorang anak laki-laki seperti dulu.Seorang anak yang aku sudah mengenalnya lama.Entah apa yang terjadi padanya selama aku KKN. Pasti banyak yang terjadi.Aku mengenalnya ya, sangat mengenalnya.Tubuhku tersungkur kembali rebah di teras masjid.Aku mendapati sosok laki-laki itu yang yang aku yakini dia adalah OCHA!.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar