Entri Populer

Senin, 30 Januari 2012

Tamae Uehara's world of literature

KULIAH KEPENULISAN FLP BANDUNG LEBIH DEKAT MENGENAL SASTRA
By Akai Ribon
Awalnya kita suka bingung bagaimana cara menyalurkan hobi menulis kita yang sudah mendesak ingin segera diapresiasikan. Berbagai macam ide dan gagasan juga sering muncul seketika ketika kita berfikiran seperti itu. Nah, jawabannya adalah bergabung dengan organisasi kepenulisan atau membuat kelompok bersama yang lainnya untuk membentuk organisasi kepenulisan juga. Tapi kedua hal tersebut memang tidak mudah kalau kita tidak banyak link sesama individu lainnya, terutama bagi individu yang memang memiliki sifat tertutup.
Di Indonesia sendiri banyak organisasi kepenulisan yang di bentuk, salah satunya FLP atau Forum Lingkar Pena. FLP didirikan pertama kali oleh Helvy Tiana Rosa dan sekarang FLP sendiri semakin berkembang pesat sampai luar Indonesia. FLP banyak melahirkan penulis-penulis hebat. Di samping itu kepenulisan juga mempengaruhi dunia sastra yang sekarang ini semakin berkembang dan melahirkan banyak sastrawan-sastrawan baik muda atau tua yang kompeten di bidangnya masing-masing seperti puisi, cerpen, essai, novel, dan lain-lain.
FLP hadir di berbagai daerah di Indonesia untuk melahirkan penulis yang berbakat atau bagi mereka yang memang mempunyai hobi menulis. FLP daerah yang baru-baru ini mengadakan agenda adalah FLP Bandung, yaitu dengan agenda Kuliah Kepenulisan. Di lihat dari namanya saja Agenda ini sangat menarik. Kuliah dan kepenulisan, dua kata yang berbeda, tapi mempunyai makna yang sangat dalam dan menyiratkan bahwa agenda itu sangat kompeten untuk melahirkan atau membuat sesuatu menjadi hebat. Sesuai dengan kata nya “Kuliah” dan “kepenulisan” yang menunjukan aktivitas positif terhadap proses pembelajaran dimana masing-masing kata tersebut mempunyai makna pendidikan untuk mengarahkan seseorang menjadi yang terbaik, terutama dalam hal menulis.
Kuliah Kepenulisan atau disingkat KK merupakan KK ke-1 yang diadakan oleh FLP Bandung. Ketua pelaksana KK ke-1 adalah ketua FLP Bandung sekarang yaitu Sri Hidayanti, yang sebelumnya oleh M. Irfan Hidayatullah. KK ke-1 ini diadakan setiap satu minggu sekali sebanyak 8 kali pertemuan dengan membayar registrasi terlebih dahulu. KK ke -1 ini diikuti oleh seluruh kalangan umum yang tersebar di seluruh wilayah Bandung, mulai dari anak kecil, mahasiswa, siswa SMP dan SMA, karyawan bahkan ibu rumah tangga. Para pengurus FLP Bandung yang membantu agenda ini juga merupakan campuran dari berbagai kalangan, terutama mahasiswa yang sangat dominan.
Ada satu hal yang tidak dapat dipungkiri oleh semuanya bahwa FLP tidak bisa lepas dari kepenulisan. Karena alasan itulah banyak orang yang tertarik dengan KK ke-1 ini. Sesuai dengan namanya, agenda ini seperti pertemuan kuliah biasa. Di setiap pertemuan para mahasiswa KK ke-1 ini diberi materi yang sesuai dengan kepenulisan. Pemberian materi disampaikan oleh orang-orang yang memang berkompeten di bidannya terutama bidang sastra seperti M. Irfan Hidayatullah, Taufik Mulyana, Wildan Nugraha, dan lain-lain.
Karya Sastra merupakan salah satu kajian yang sangat banyak diminati oleh semua orang. Awalnya dari menulis hal yang kecil dan lama-lama hal kecil tersebut menjadi hal yang besar. Aplikasinya bisa dilihat di zaman sekarang. Selain itu banyak media juga yang menampilkan karya sastra tersebut seiring perkembangan zaman. Salah satu yang banyak dibahas dalam kuliah kepenulisan ini adalah membahas karya sastra dan seluk beluknya, macam-macam karya sastra itu sendiri bahkan sampai ke penerbitan.
Karya sastra sudah ada sejak zaman dahulu. Di mulai dari propaganda yang ditulis oleh para pejuang kita, itu juga merupakan salah satu karya sastra yang dikaji pada zaman sekarang. Bagaimana kata-katanya dan penulisan serta ejaannya. Kemudian muncul barisan kata-kata yang di tulis oleh seorang penyair yang disebut puisi.
Kembali kepada kuliah kepenulisan, materi pertama yang disampaikan yaitu ejaan yang disempurnakan. Ejaan yang disempurnakan. Ejaan yang disempurnakan umumnya meliputi ejaan kata, kalimat, dan tanda baca. Semuanya saling berhubungan. Di dalam kata ada yang harus dimiringkan, kata baku atau tidak, capital atau tidak, dan lain-lain. Di dalam kalimat terdapat kalimat ambigu, ketaksaan, kalimat efektif, dan lain-lain. Sedangkan di dalam tanda baca harus diperhatikan penggunaan tanda baca yang benar seperti dimana kita akan menempatkan koma, titik, tanda seru, tanda tanya, tanda petik dan sebagianya. Memang tugas seperti itu kalau dalam sebuah penerbitan dikenal dengan istilah “Editing”, orang yang mengerjakan editing disebut “editor”.
Selanjutnya yaitu mengenai bagaimana menakar bahasa dalam sastra dan perbincangan seputar tata bahasa dan sastra. Materi ini sangat signifikan. Bagi seseorang yang masih awam terhadap karya sastra serta seluk-beluknya akan memandang materi ini sangat sulit. Juga bagi mahasiswa yang bukan dari jurusan bahasa Indonesia, akan terasa lebih sulit juga. Mengapa? Karena memang materi ini lebih dibahas bagi mereka yang benar mengerti akan karya sastra atau mahasiswa jurusan bahasa Indonesia yang setiap harinya bisa saja disuapi dengan banyak karya sastra bahkan dengan permasalahannya yang dulu dan sekarang. Tapi untunglah di KK ini disesuaikan dengan para partisipannya yang kebanyakan dari kalanagan umum dan tidak mengerti karya sastera sebelumnya.
Karya sastra idak bisa lepas dari penggunaan Tata Bahasa. Banyak sekali gaya bahasa yang berupa ungkapan yang digunakan di dalam karya sastra agar tulisannya lebih hiduo dan menarik. Bisa dikatakan bahwa aspek bahasa menempati posisi penting. Di dalam bahasa tidak hanya digunakan sebagai komunikasi saja tapi aspek bahasa juga bisa menunjukkan peradaban suatu daerah atau Negara, pola pikir, dan juga identitas kita bahkan Negara sebagaimana halnya Indonesia yang mempunyai identitas nasional mealui penggunaan Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional. Oleh karena itu para ahli bahasa menyadari bahwa bahasa sangat banyak dan membutuhkan sesuatu yang bisa mengikat penggunaannya, yaitu dengan adanya pembakuan bahasa. Pembakuan ini digunakan agar orang tidak salah menafsirkan dan juga bahasa yang digunakan bisa dimengerti oleh orang yang secara umum telah memakai bahasa itu sejak lama dan sudah ditetapkan secara standar di daerah itu sehingga penggunaannya dapat menyebar ke seluruh wilayah. Aspek bahasa juga harus dilihat dari tingkat kesopanan atau tidaknya. Karena aspek bahasa juga seprti yang sudah dikatakan diatas mampu menunjukkan pola pikir seseorang, apakan dia seorang intelek atau biasa saja bisa dilihat dari penggunaan bahasa yang setiap saat keluar dari mulutnya untuk berkomunikasi.
Sebagai seseorang yang sudah diperkenalkan mengeni karya sastra dengan mengikuti KK di FLP tidak lengkap rasanya kalau tidak mengetahui bagaimana sejarah sastra itu muncul. Untunglah materi sejarah sastra turut menghiasi pendidikan ilmu di KK. Sejarah sastra yang selalu berkembang dan mampu membuat seseorang terbius kerana kebearadaannya sudah sangat sering dipertanyakan bagi orang awam. Sejarah sastra yang dapat dikenal dan ditelusuri melalui karya sastra yang sealu hadir dan dibuat sesuai zamannya. Secara singkat Karya sastra sudah ada sejak dulu, terutama karya sastra dengan menggunakan bahasa Melayu (sebelum bahasa Indonesia). Karya sastra muncul sebelum abad ke-20, baik lisan atau tulisan. Para sastrawan mengklasifikasikannya dengan karya sastra Pujangga Baru. Karya sastra ini meliputi syair, puisi, hikayat, dan gurindam. Kemudian karya sastra semakin berkembang dan memunculkan satu masa dimana karya sastra yang ada mulai diterbitkan, yaitu pada masa Balai Pustaka. Lalu diganti dengan masa Pujangga baru, reformasi, dan abad modern sampai sekarang. Itulah sejarah singkat sastra di Indonesia. Walaupun masa terus berganti, tapi karya sastra selalu menarik untuk di kaji.
Selanjutnya, karena karya sastra selalu hadir dan selalu diperbaharui, timbulah kritik sastra. Yang harus di garis bawahi adalah kata kritik itu sendiri. Kritik disini hadir untuk meneliti, menanggapi, dan memberi pendapat mengenai kekurangan dan kelebihan karya sastra yang telah dibuat. Sebuah kritik hadir untuk membangun atau meningkatkan hal yang telah dibuat sehingga menjadi lebih baik lagi. Di samping juga untuk menumbuhkan rasa tanggung jawab bahwa segala sesuatu itu tidak bisa dibuat hanya begitu saja. Begitupun dengan karya sastra yang telah dibuat. Karya sastra tersebut harus bisa dipertanggung jawabkan dan diperbaiki sehingga kekeliruan tdak muncul lagi ketika pembuatan karya sastra selanjutnya akan dibuat. Tanpa kritik seseorang tidak akan tahu nilai baik atau buruknya dari segala seseuatu yang hadir di dunia ini, begitu pun dengan karya sastra. Kritik bisa muncul oleh para pembaca atau penulisnya sendiri. Namun lebih baiknya kritik sastra timbul dari pembaca bukan dari penulisnya sendiri. Mengapa? Agar tidak terjadi hal-hal yang memang seharusnya timbul untuk bahan diskusi tapi dikarenakan hasil kritik di buat oleh penulis sendiri malah senagaja ditutupi supaya orang lain tidak tahu. Kritik sastra sangat enting untuk perkembangan sastra selanjutnya.
Setelah membahas berbagai macam seluk beluk karya sastra. Kini akan diperkenalkan suatu objek atau pekerjaan yang berhubungan dengan kepenulisan langsung yaitu Penerbitan. Proses penerbitan sebuah buku sangat rumit. Mulai dari proses pemilihan naskah, proses editing apakah naskah layak terbit atau tidak, percetakannya dan proses lain sebelum naskah itu menjadi buku. Disini hal yang menarik dari sebuah penerbitan adalah bahwa sebuah penerbit tidak hanya selalu bergerak dalam bidang penerbitan dan percetakan saja tetapi dalam bidang yang lain juga termasuk bisnis, iklan, fashion bahkan televisi dan media lainnya. Tapi fakta di Indonesia yang sangat memprihatinkan bahwa ketika para penerbit mencetak banyak buku ke pasaran , minat membaca malah semakin turun bahkan satgnan tidak ada peningkatan sama sekali. Oleh Karena itu, agar penerbit, penulis, dan pembaca sama-sama diuntungkan, mari kita budidayakan kecintaan terhadap buku karena membaca adalah jendela dunia.
Agenda KK ini sangat positif. Sebagai penutup tidak lengkap rasanya kalau kita tidak mengetahui FLP itu sendiri. FLP yang merupakan sebuah organisasi ternyata memilki struktur kepengurusan yang sangat lengkap. Sama halnya ketika kita mengikuti kegiatan organisasi di kampus atau disekolah. Mulai dari adanya ketua sampai berbgai macam bidang divisi yang dibuat untuk kemajuan FLP. Setidaknya dengan KK ini kita bisa mengenal FLP dan karya sastra (pementasan drama, puisi, sajak, dan lain-lain) lebih dekat lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar